06 January 2012

Bahagia dulu, Sukses dulu?


Sudah fitrah manusia ingin menjadi orang sukses dan bahagia. Tidak ada satupun orang yang mau gagal dan menderita. Bahkan setiap orang berlomba-lomba dan bekerja keras untuk mencapainya.
Lalu kenapa orang ingin sukses? Karena menurutnya kalau sukses dia akan bahagia. Jadi sebenarnya yang dicari manusia adalah kebahagiaan. Sukses hanya kendaraan menuju bahagia. Sehingga bisa jadi orang yang sukses belum tentu bahagia.
Bahkan banyak orang yang sudah memiliki kekuasaan tapi dibenci oleh rakyatnya. Kemana-mana selalu didemo dan dilempari telur busuk. Tidak sedikit kita saksikan pejabat yang seperti ini khususnya di negara kita. Bahkan setiap ada kunjungan pejabat ke daerah ada saja mahasiswa yang demo, terlepas dari benar atau tidaknya apa yang mereka tuntut.
Contoh lainnya adalah tumbangnya para penguasa Arab di penghujung tahun 2011 ini. Qadhafi misalnya, apakah dia bahagia dengan kekuasaannya yang hampir 42 tahun? Belum lagi dengan kekayaannya yang triliunan. Toh kalau dilihat dari ukuran duniawi dia sudah sukses menjadi salah seorang presiden terlama di dunia. Tapi kalau bahagia apakah sudah dia dapatkan?
Kita tentu menyaksikan di televisi bagaimana dia mengakhiri hidupnya. Diseret-seret, dilukai, dan disiksa oleh rakyatnya sendiri sampai menemui ajalnya dengan cara yang tragis. Lalu kemana semua pembantu, pengawal, dan kekayaannya selama ini? Mengapa tidak ada satupun yang bisa menolongnya di saat dia sangat membutukan?
Begitu juga dengan Husni Mubarak, pemimpin Mesir yang berkuasa hampir 32 tahun. Dia juga dipaksa mundur oleh rakyatnya karena sudah terlalu lama berkuasa dan maraknya praktek korupsi. Akhirnya dia pun mundur mengikuti kehendak rakyatnya.
Ternyata tidak selesai sampai di situ.  Diapun harus mengikuti sidang pengadilan atas kejahatannya selama berkuasa. Walaupun saat ini dia tengah sakit keras dan harus berbaring di tempat tidur. 

Bisakah harta yang dia tumpuk selama ini menolongnya? Kenapa kekuasaan yang sudah dia emban puluhan tahun tidak bisa melindunginya? Kemudian apakah dia bahagia dengan semua yang telah dia raih selama berkuasa? Hanya dia dan Allah yang tahu.
Namun kita bisa mengambil hikmahnya. Ternyata kebahagiaan itu tidak identik dengan kesuksesan duniawi. Kebahagiaan itu adalah tujuan hakiki. Sedangkan sukses adalah alat dan sarana. Maka sukses duniawi bukan satu-satunya cara untuk bahagia. Banyak juga orang yang dari segi duniawi dianggap tidak beruntung tapi dari segi rohani sangat bahagia.
Contohnya adalah Syekh Ahmad Yasin. Beliau adalah orang yang lumpuh sekujur tubuhnya. Kemana-mana harus menggunakan kursi roda. Kehidupan duniawinya juga tidak mewah. Tapi dia menjadi pemimpin rakyat Palestina yang paling ditakuti oleh Yahudi. Walaupun pada akhirnya beliau syahid dibunuh oleh Israel tapi namanya begitu harum dan kematiannya ditangisi oleh jutaan umat Islam yang simpati kepadanya.
Jelaslah bahwa kebahagiaan itu tidak diukur dari kekayaan dunia tapi dari kekayaan jiwa. Walaupun kita sendiri tidak bisa menilai apakah seseorang bahagia atau tidak. Tapi kita bisa melihat bagaimana keadaannya waktu meninggal. Kalau orang merasa kehilangan dengan kepergiannya bisa jadi dia orang baik dan bahagia dalam hidupnya. Karena tidak mungkin dia bisa membahagiakan orang lain kalau dirinya sendiri tidak bahagia.
Oleh karena itu kita harus bahagia dulu dengan diri sendiri baru kita bisa sukses. Kalau hanya mengejar sukses tanpa merasakan kebahagiaan maka yakinlah kita tidak akan meraih apa yang kita inginkan. Karena bagaimana akan mencapainya, kita sendiri tidak happy saat  menjalaninya. Wallahua’lam. ***


No comments:

Post a Comment