15 April 2018

ORANG-ORANG SADIQIN DI DALAM TAJRID





Kehendakmu agar semata-mata beribadah, padalah Allah sudah menempatkan dirimu sebagai golongan orang yang harus berusaha untuk mendapatkan kehidupan duniamu (sehari-hari), maka keinginan seperti itu termasuk perbuatan (keinginan) syahwat yang halus. Sedangkan keinginanmu untuk berusaha, padahal Allah Ta'ala telah menempatkan dirimu diantara golongan yang semata-mata beribadah, mengikuti keinginanmu itu, berarti engkau telah turun dari semangat dan cita-cita yang tinggi.

Watak yang dimiliki oleh orang sadiqin, ialah tidak meninggalkan dunia karena akhirat dan tidak meninggalkan akhirat sebab dunia. Hubungan timbal balik antara dunia dan akhirat adalah suatu keharusan yang patut diusahakan dan ditunjang dengan perilaku akhlak Islami yang akan menunjang semua hal yang menyangkut duniawi dan ukhrawi.

Kedudukan manusia dalam tajid karena kehendak mentaati Allah Swt. lalu menanggalkan usaha (kasab) padahal ia masih memerlukan kasab itu sebagai keperluan yang wajar secara duniawi, maka kehendak tajrid seperti ini termasuk syahwat badani yang tidak pada tempatnya.

Syahwat badani seperti ini memang syahwat yang halus, karena bukan perbuatan yang tidak dibolehkan, akan tetapi tidak pada tempatnya, apalagi kalau tajrid seperti itu adalah suatu keinginan agar dianggap sebagai manusia zuhud (orang yang tidak berkehendak kepada dunia, semata-mata karena Allah). Kehendak seperti ini bertentangan dengan kehendak Allah sendiri, karena akan menjerumuskannya kepada syirik yang halus pula.

Sebaliknya, orang yang telah mendapatkan keputusan Allah untuk beribadah saja (dalam maqam tajrid saja) berarti ia sudah tidak mempunyai tugas duniawi yang melibatkan dirinya pada ikhtiar duniawi, hanyalah semata-mata beribadah, karena Allah telah memilih ia untuk hal itu. Orang seperti ini bukanlah karena ia tidak memerlukan lagi kehidupan dunia, untuk keperluannya yang primer, akan tetapi Allah telah menjamin dunianya dengan rezeki yang tak dapat. Dalam urusan duniawi ia tidak terlalu mengharapkan mendapatkannya, karena siap menerima anugerah Allah dengan jalan beribadah kepada-Nya semata.

Inilah orang yang sadiqin di atas jalannya, Ia tidak tamak menghadapi hidup melewati jalan tajrid, karena menempatkan duniawi sebagai hal yang tidak mengikatnya sebagai belenggu yang merusak ibadahnya kepada Allah Ta'ala. Dalam pelaksanaan ibadah kepada Allah, ada dua hal yang perlu diingat, lalu menempatkan diri secara teguh (istiqamah) pada tempat yang dipilih si hamba untuk periuangan hidupnya di dunia dan di akhirat Kedudukan dua hal ini tidak berbeda. Karena niat yang tersembul dari perbuatan seperti itu sama kedudukannya yakni untuk beribadah Masalahnya sekarang adalah bagaimana seseorang menekuni perilaku ibadahnya. Di satu pihak keinginan tajrid lebih kuat lebih dominan, dipihak lain keinginan duniawi lebih condong mengikuti semua perbuatan sebagai ibadah juga.

Untuk menghilangkan keraguan (was-was) dalam diri hamba yang sadiq maka harus menekuni dua perilaku tersebut, sehingga masing-masing mampu memberi nilai lebih dan menjadikannya sebagai ibadah yang bermanfaat dunia dan akhirat.

Meskipun demikian, perlu dipahami bahwasanya magam tajrid yang telah dipilih seorang hamba yang sadiqin, adalah magam yang mulia karena tidak semua orang mampu berada pada magam tersebut. Magam tajrid ini adalah pilihan Allah atas hamba-Nya dalam hubungannya dengan peribadatan yang khusus.

Adapun ciri-ciri hamba yang sadiqin dan tajrid di antaranya:
1.       Mendekatkan diri kepada Allah Swt., akan tetapi tidak mengabaikan duniawinya.
2.       Mengkhususkan diri beribadah semata-mata kepada Allah, karena Al lah swt. telah menjamin hidup duniawinya, karena ibadah ibadah yang ia amalkan.
3.       Menempatkan diri dalam hidup sederhana (qanaah) dan menjaga kehormatannya (iffah) dalam hubungan sesama manusia.
4.       Tidak menyia-nyiakan pemberian Allah yang telah diterima oleh si hamba (seperti rezeki) yang tak terduga, untuk kepentingan manusia lainnya. Kemudian ia tetap istiqamah dalam ibadah yang dijalankannya.
5.       Jiwa dan ruh mereka tenang menikmati ibadah kepada Allah Swt.
6.       Mengembalikan seluruh persoalan yang telah terjadi dan yang akan terjadi kepada Allah Swt. Serta mengerakan sesuatu perbuatan semata mata karena izin Allah.

(Sumber : Syekh Ahmad Atailah. )

No comments:

Post a Comment