12 January 2012

Harmonis Dengan Shalat Berjamaah



Shalat berjamaah di mesjid merupakan sarana membangun komunikasi yang harmonis dengan Allah. Ketenangan yang kita rasakan akan membuat kita bekerja dengan lancar sehingga bisa meraih kesuksesan dunia akhirat. Dengan ini mudah-mudahan kita siap kapanpun “dipanggil” oleh Allah.
Karena tidak sedikit diantara kita yang takut mati karena merasa belum ada bekal. Kesibukan mengejar dunia terkadang membuat kita abai dengan persiapan akhirat. Tidak jarang terlontar ucapan dari mulut kita, “Saya sekarang mau cari dunia dulu,nanti kalau sudah tua baru ibadah cari pahala.” Na’uzubillah!
Sungguh, tidak ada yang tahu kapan usia kita berakhir. Bagaimana kalau kita meninggal sebelum tua? Tidak sedikit orang yang masih muda tapi sudah dicabut nyawanya oleh malaikat Izrail. Bahkan anak-anak pun tidak ada yang menghalangi kalau Allah sudah memanggilnya. "Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikanmu, kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan." (QS.32:11).
Untuk itu kita harus siap kapanpun usia kita berakhir. Salah satu caranya adalah dengan istiqomah shalat berjamaah. Tentunya dengan shalat yang berkualitas yang berdampak kepada diri dan lingkungan kita. Shalat yang tidak hanya sekedar melepas kewajiban tapi juga bisa merubah perilaku kita menjadi lebih baik.
Saking pentingnya shalat berjamaah di mesjid, orang buta pun tetap disuruh oleh nabi untuk shala di mesjid. Hal ini terlihat dari dialog nabi dengan orang buta tersebut. “Ya Rasul apakah saya wajib shalat di mesjid?” Kata nabi, “Kalau kamu mendengar suara azan maka kamu wajib shalat di mesjid.” Sudah barang tentu orang yang bisa melihat dengan normal dan tidak memiliki keterbatasan fisik lebih wajib lagi.
Namun ada sebagian orang yang membantah sambil berkata, “Buat apa shalat ke mesjid kalau tidak bisa bikin kaya. Saya saja yang tidak shalat ke mesjid toh bisa kaya. Sementara kamu sendiri yang sering ke mesjid kok lebih miskin.” Maka tidak usah ditanggapi kata-kata seperti itu. Karena sesungguhnya sukses yang dia rasakan baru sebatas di dunia. Kesuksesan itu tidak akan membuat dia bahagia selama dia belum mau shalat berjamaah. Jangan terpesona melihat tampilan luarnya saja sementara hatinya penuh dengan kegelisahan.
Namun kita harus menyikapi mereka dengan bijak. “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS.16:125)
Lihatlah orang yang benar-benar mengerjakan shalat berjamaah secara istiqomah, wajahnya lebih tenang, bahagia, dan jauh dari stres. Sebaliknya, orang yang jarang melakukannya tampak gelisah dan tidak bisa bekerja dengan baik. Baru bekerja sebentar saja dia sudah tidak betah. Akhirnya mereka mencari hiburan yang tentu saja akan menghabiskan waktu dan biaya.
Padahal islam sudah memberikan solusi yang sangat praktis yaitu, shalat. Tentunya bila kita menjalankan shalat wajib setiap hari dengan baik dan benar akan mudah mendatangkan ketenangan. Apalagi kalau ditambah dengan shalat sunat, tentu akan lebih baik lagi hasilnya.
Oleh karena itu, mari kita bangkitkan kembali izzah umat islam dengan melaksanakan shalat berjamaah di mesjid. Kita makmurkan mesjid-mesjid kita setiap hari dengan shalat berjamaah. Marilah kita berusaha agar mesjid menjadi tempat yang nyaman untuk dikunjungi.
“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, Maka merekalah orang-orang yang diharapkan Termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS.9:18)
Itulah nikmatnya shalat berjamaah, kita akan diberi petunjuk oleh Allah sehingga bisa saling melengkapi satu sama lain. Kita tidak hanya berpikir untuk pribadi tapi juga untuk orang lain. Disinilah tumbuh bibit-bibit solidaritas, gotong royong, dan saling membantu. Semuanya itu merupakan bekal untuk meraih kesuksesan.
 Karena realitanya kita tidak bisa hidup tanpa berjamaah. Orang yang hanya peduli dengan diri sendiri tidak akan sukses. Karena kesuksesan seseorang adalah karena adanya dukungan dari orang lain. seperti keluarga, lingkungan, dan masyarakat sekitarnya. Yakinlah kalau ada orang yang sukses duniawi tapi mengabaikan shalat berjamaah maka dia tidak akan merasakan kebahagiaan yang hakiki. Wallahua’lam.***



Shalat Berjamaah Sumber Kekuatan Islam



Membina hubungan yang harmonis dengan sesama manusia merupakan sebuah keharusan. Ini tidak lepas dari fitrah manusia yang senang bersosialisasi, berkumpul, dan berkelompok. Karena dalam komunitas itulah manusia merasakan keberadaan diri dan menemukan makna hidupnya.
Shalat berjamaah di mesjid merupakan salah satu cara bersosialisasi dengan manusia. Khusus bagi laki-laki, hal ini merupakan sebuah keharusan sehingga  rasulullah sangat menganjurkannya. Ini menunjukkan betapa pentingnya arti shalat bagi seorang muslim. “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku”. (QS. 2:43)
Bila ditinjau dari aspek fisik maupun rohani, shalat berjamaah sangat bermanfaat bagi orang yang mengerjakannya. Begitu pula bila ditinjau dari aspek sosial dan kemasyarakatan. Oleh karena itu, sudah sepantasnyalah kita berusaha agar istiqomah dalam mengerjakannya.
Apalagi melihat kenyataan saat ini dimana masih sedikit orang yang konsisten melaksanakan  shalat wajib berjamaah di mesjid. Kita bisa saksikan di sekitar kita, mesjid hanya penuh sekali seminggu setiap shalat jumat. Padahal mesjidnya besar dan megah tapi sepi dari jamaah.
Anehnya, untuk membangun mesjid orang tidak segan-segan menyumbang berapa pun. Tapi untuk shalat di mesjid kaki terasa berat  melangkah. Padahal mesjid dibangun untuk dimakmurkan dengan shalat-shalat kita. Bila seseorang menyumbang untuk pembagunan mesjid tapi dia sendiri tidak shalat di sana maka sia-sialah amalnya. Karena yang lebih penting adalah membangun orangnya bukan membangun mesjidnya.
Bahkan menjelang ramadhan biasanya dilakukan perluasan mesjid untuk menampung jamaah tarawih. Namun itupun tidak penuh selama satu bulan. Biasanya memasuki minggu keempat bulan ramadhan, mesjid kembali kosong. Apalagi selesai idul fitri, mesjid sepi dari jamaah. Sugguh menyedihkan. 
Mesjid hanya dibangun untuk diisi sekali setahun saja guna melaksanakan shalat sunat. Tapi untuk shalat wajib kita lebih memilih sholat sendiri-sendiri di rumah atau di tempat kerja kita. Padahal tidak sedikit dari kita yang tinggal di sekitar masjid. Namun tidak jarang saat azan dikumandangkan, kita masih asyik ngobrol dengan teman. Inilah realita yang terjadi di masyarakat yang perlu kita perbaiki bersama. Kita harus berusaha agar mesjid menjadi nyaman sehingga orang tertarik untuk shalat berjamaah di masjid.
Memang di beberapa mesjid tertentu sudah bagus pegelolaannya. Tapi sebagian yang lain masih butuh pengelolaan yang lebih profesional. untuk itu, sudah seharusnya setiap masjid memiliki standar operasional pengelolaan mesjid. Diperlukan manajemen masjid yang baik agar mesjid tidak hanya sebagai tempat shalat tapi juga sebagai pusat kegiatan masyarakat, pusat bisnis, dan pusat dakwah. Inilah PR kita bersama untuk menjadikan masjid sebagai pusat peradaban. Wallahua’lam.***

11 January 2012

Makna dan hakikat ibadah shalat



Allah Swt. telah menjadikan shalat sebagai sarana untuk mendekat kepada-Nya. Shalat merupakan cara paling efektif untuk membangun keselarasan dengan Allah. Tidak tanggung-tanggung, untuk menerima perintah ini nabi Muhamad diundang ke Sidratul Munthaha.
Berbeda halnya dengan ibadah lain yang langsung diperintahkan Allah lewat malaikat Jibril. Ini menunjukkan bahwa shalat memiliki arti khusus dalam pandangan Allah. Shalat yang merupakan mi’rajnya orang islam ini tentu sangat besar manfaatnya untuk kehidupan manusia.
Oleh karena itu, kita harus serius memperhatikan shalat-shalat kita. apakah sudah kita laksanakan dengan sungguh-sungguh? Kalau sudah tentu shalat akan mendatangkan manfaat yang besar bagi kehidupan kita. Sehingga shalat benar-benar mewarnai kehidupan dan menuntun langkah-langkah hidup kita.
Bahkan karena kemuliaan ibadah shalat kita harus berwudhu terlebih dahulu,  berpakaian yang bersih, tempatnya harus bersih, dan yang tidak kalah pentingnya adalah membersihkan hati serta pikiran dari segala sesuatu selain Allah (khusyuk).
Shalat juga merupakan ibadah yang paling banyak dilakukan orang islam. Minimal 5 kali sehari umat muslim melaksanakan shalat wajib. Belum lagi bila ditambah dengan shalat-shalat sunat. Sehingga hampir setiap waktu bisa diisi dengan shalat. Mulai dari waktu fajar, subuh, dhuha, siang, sore, dan malam ada shalat-shalat yang bisa kita lakukan, baik wajib maupun sunnah.
Orang yang benar-benar mengerjakan shalat, hidupnya pasti akan merasakan ketentraman dan kebahagiaan karena setiap shalat dia berzikir kepada Allah. “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS.13:28)
Jelaslah bahwa dengan shalat kita bisa meluruskan berbagai kekusutan dalam hati dan pikiran, meminta petujuk kepada Allah, dan memohon pertolongan-Nya. Sehingga kita siap mengatasi segala permasalahan hidup dengan lebih tenang.
Ini tentu kalau shalatnya dilakukan dengar benar. Karena saat ini banyak yang shalat tapi sekedar melepas kewajiban sehingga tidak berdampak kepada kehidupannya. Akibatnya sepulang dari mesjid malah mencuri sendal, masih suka bergunjing, atau korupsi di kantor. Ini menunjukkan bahwa kita belum memahami makna shalat yang sesungguhnya.
Karena shalat yang benar justru mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Sehingga orang yang shalat itu tidak akan berbuat hal-hal yang dilarang. “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS.29:45)
Seharusnya selesai shalat kita harus menebar keselamatan kepada orang lain sesuai dengan ikrar yang kita ucapkan saat mengakhiri shalat. Kita  menoleh ke kiri dan ke kanan sambil mengucapkan : Assalamu’alaikum” (Keselamatan bagi anda sekalian).
Disamping itu, shalat juga merupakan sarana untuk merendahkan diri di hadapan Allah. Sehingga kesombongan dan keangkuhan kita bisa terkikis dengannya. Dengan meletakkan kening kita sejajar dengan telapak kaki menunjukkan bahwa tidak pantas kita sombong di hadapan Allah.
Sungguh banyak hikmah yang terkandung dalam ibadah shalat yang kalau kita kaji tidak akan ada habis-habisnya. Ini semua menunjukkan kepada kita akan kemuliaan shalat dan keutamaanya dibanding ibadah-ibadah lainnya. Kalau dipelajari dan diyakini, semua aktifitas shalat itu mengandung hikmah dan makna yang sangat mendalam.  “Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS.29:45)
Belum lagi kalau kita kaji makna gerakan shalat dan juga makna bathinnya. Semuanya bermafaat bahkan untuk kesehatan tubuh kita. itulah pentingnya memperdalam ilmu dan pemahaman kita tentang shalat. Agar kita menjalankan dengan sungguh-sungguh dan merasakan manfaatnya dengan optimal. Wallahua’lam.***

Cara Agar Bahagia




Hubungan yang baik dengan Allah merupakan syarat utama dalam meraih kebahagiaan. Karena hanya dengan mengingat Allahlah hati kita akan tenang. Hati itu tidak akan bahagia dengan selain Allah. Kalaupun bahagia itu hanya sesaat dan tidak tahan lama. “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS.13:28)

Oleh karena itu, orang yang ingin bahagia harus terus mendekatkan diri kepada Allah. Bisa dengan shalat, berdoa, atau berzikir sesuai yang diajarkan Rasulullah saw. Dengan ini kadar kebahagiaan seseorang akan terus meningkat.

Sebaliknya, bagi orang yang tidak mempedulikan hubungannya dengan Allah maka hatinya akan gelisah. Ujungnya akan berdampak kepada perilaku dan kehidupannya. Oleh karena itu, tidak ada jalan lain bagi siapapun yang ingin bahagia kecuali dengan mendekatkan diri kepada Allah.

Uniknya dalam islam kita sudah disediakan sarana khusus untuk mengingat Allah dan mendekat kepada-Nya, yaitu shalat. Di dalam shalat suah terangkum setiap praktek ibadah seperti baca quran, zikir, doa, dll. Jadi shalat merupakan salah satu ibadah yang komplit dan sangat efektif digunakan untuk menyelaraskan hubungan kita dengan Allah.

Sebagai pencipta kita tentu Allah tahu apa yang kita butuhkan dan apa yang membuat kita tenang. Bahkan Dia berjanji akan menolong kita dari segala kesulitan. “Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong.” (QS.2:107)

Oleh sebab itu, penting sekali untuk terus mendekat kepada Allah dan menyelaraskan hubugan dengan-Nya.  Kalau hati kita sudah tenang maka ujungnya adalah kebahagiaan. Semua ini dapat kita capai salah satunya dengan shalat, terutama yang dilakukan dengan berjamaah.

Jangan pernah berpikir bahwa shalat berjamaah akan menghabiskan waktu kerja kita. Justru shalat lebih penting dari pekerjaan kita yang hanya sekedar mencari dunia. Jangan sampai kita menganggap pekerjaan lebih penting dari shalat sehingga kita melalaikannya. Jangan sampai kita lebih memilih untuk melanjutkan rapat dari pada menunaikan shalat berjamaah di masjid.

Terkadang kita takut kalau kita terlambat samapi di kantor. Sementara kita tidak takut ketika telat untuk shalat ke mesjid. Begitulah kita harus terus memperbaharui ilmu dan iman kita agar tidak jenuh. Tapi justru  meningkat dan meningkat. Percayalah keselarasan dengan Tuhan akan mendatangkan kebahagiaan.

Selain dengan ibadah ritual, kedekatan dengan Allah juga bisa bertambah dengan terus menimba pengetahuan kita tentang Allah. Sehingga kita tahu keberadaan-Nya, apa yang diinginkan-Nya, dan apa yang tidak Dia sukai. Dengan ini diharapkan kita bisa merasakan kehadiran Allah dalam kehidupan kita sehari-hari.

Disamping kedekatan dengan Allah penting juga bagi kita untuk membina hubungan baik dengan manusia. Sebagai makhluk sosial kita membutuhkan sosialisasi dengan orang lain. Bahkan di tingkat yang lebih jauh kita juga harus membina hubungan dengan lingkungan sekitar kita seperti tumbuhan dan binatang.
 
Akhirnya hanya dengan semakin mendekatkan diri kepada Allahlah kita akan sukses, tentram, dan bahagia. Tidak ada cara lain selain itu. Inilah jalan satu-satunya yang efektif. Tentunya hubungan yang tulus dan ikhlas bukan karena keterpaksaan. Hubungan yang dilandasi kecintaan yang tulus.Wallahua'lam.***